PENERAPAN KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA MALAS BELAJAR DI KELAS 5 SD 7 CENDONO DAWE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Riyanto, edy (2014) PENERAPAN KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA MALAS BELAJAR DI KELAS 5 SD 7 CENDONO DAWE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Skripsi Sarjana thesis, Universitas Muria Kudus.

[img]
Tinjau ulang
PDF (Hal Judul) - Accepted Version
Download (1MB) | Tinjau ulang
[img] PDF (Bab 1) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (155kB)
[img] PDF (Bab 2) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (214kB)
[img] PDF (Bab 3) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (168kB)
[img] PDF (Bab 4) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (240kB)
[img] PDF (Bab 5) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (112kB)
[img] PDF (Bab 6) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (115kB)
[img]
Tinjau ulang
PDF (Daftar Pustaka) - Accepted Version
Download (94kB) | Tinjau ulang
[img] PDF (Lampiran) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (10MB)

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh survey awal yang dilakukan oleh peneliti dengan melakukan wawancara kepada guru kelas pada hari jumat tanggal 2 Mei 2013 jam 09.00 – 09.45 di kantor dan mendapatkan informasi dari lingkungan sekolah bahwa di SD 7 Cendono Dawe Kudus. Peneliti mendapatkan hasil survey awal mengenai malas belajar disebabkan oleh motivasi belajar rendah, siswa tidak pernah mencatat, tidak mengerjakan tugas, melamun dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Oleh karena itu peneliti memerlukan layanan konseling behavioristik untuk mengatasi malas belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah konseling behavioristik dapat mengatasi siswa malas belajar di kelas 5 SD 7 Cendono Dawe Kudus Tahun Pelajaran 2013/2014?”. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Menemukan penyebab siswa yang mengalami gejala malas belajar. 2. Mengatasi siswa yang mengalami malas belajar dengan konseling behavioristik. Penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan subyek penelitian yaitu tiga siswa yang mengalami masalah malas belajar, yaitu MDM, RWW, dan MS. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan kunjungan rumah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor penyebab siswa malas belajar dan penerapan konseling behavioristik dari ketiga konseli yaitu: 1. Konseli MDM: 1) Faktor penyebab MDM malas belajar adalah motivasi belajar rendah dan tidak mempunyai cita-cita, kurang perhatian dan motivasi belajar dari orang tua; 2) Perilaku yang ingin diubah yaitu sikap MDM yang sering melamun dan tidak memperhatikan guru saat proses belajar pembelajaran di dalam kelas dan lambat dalam belajar. 3) Efektifitas konseling behavioristik dapat kita lihat dari hasil akhir konseling yaitu setelah dilaksanakan konseling sebanyak tiga kali dengan menerapkan konseling behavioristik, MDM lebih sering belajar, membiasakan mengerjakan tugas, mulai berani bertanya pada guru di kelas, sering memperhatikan guru dan tidak lagi melamun di dalam kelas. 2. Konseli RWW: 1) Faktor penyebab RWW malas belajar adalah: lebih berminat pada mata pelajaran penjaskes daripada mata pelajaran yang lain dan suasana rumah yang kurang mendukung, yaitu kedua adiknya yang sering ramai bermain di rumah; 2) Perilaku yang ingin diubah yaitu sikap RWW yang sering kurang memperhatikan guru dan sibuk sendiri memainkan alat tulisnya saat proses belajar pembelajaran didalam kelas serta jarang belajar; 3) Efektifitas konseling behavioristik dapat kita lihat dari hasil akhir konseling yaitu: setelah dilaksanakan konseling sebanyak tiga kali dengan menerapkan konseling behavioristik, RWW menjadi rajin belajar tidak hanya pelajaran penjaskes tetapi juga pelajaran yang lain, memperhatikan guru dan tidak bermain sendiri di kelas. 3. Konseli MS: 1) Faktor penyebab MS malas belajar adalah motivasi belajar rendah dan belum mempunyaai cita-cita serta kurang perhatian dan motivasi belajar dari orang tua: 2) Perilaku yang ingin diubah adalah sikap MS yang sering terlihat kurang semangat saat mengikuti pelajaran di kelas dan bahkan tidak pernah mencatat materi pelajaran; 3) Efektifitas konseling behavioristik dapat kita lihat dari hasil akhir konseling yaitu: setelah dilaksanakan konseling sebanyak tiga kali dengan menerapkan konseling behavioristik, MS menjadi lebih semangat mengikuti pelajaran di kelas dan sudah mulai bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru, rajin mencatat materi pelajaran dan tugas-tugas dari dikerjakan sungguh-sungguh. Berdasarkan kesimpulan diatas peneliti memberikan saran kepada: 1. Kepala sekolah: perlu diadakan pertemuan secara periodik dengan guru kelas dan guru mata pelajaran untuk membahas permasalahan siswa, 2. Wali Kelas: 1) Selalu memantau perkembangan siswa baik perkembangan akademik maupun perkembangan tingkah laku; 2) Membantu mengatasi siswa yang malas belajar agar siswa bisa mencapai prestasi belajar yang maksimal; 3) Mengadakan diskusi tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan siswa yang ditemukan dalam pembelajaran serta berusaha membicarakan cara pemecahannya. 3. Orang tua: 1) Selalu memperhatikan perkembangan akademik serta tingkah laku anak setiap hari; 2) Memberikan perhatian yang positif terhadap anak; 3) Menjalin kerja sama dengan sekolah dengan cara saling memberikan informasi mengenai perkembangannya baik di rumah maupun di sekolah.

Tipe dokumen: Skripsi (Skripsi Sarjana)
Uncontrolled Keywords: Pendekatan Konseling Behavioristik, Malas Belajar
Subjects: Pendidikan > Teori dan praktek pendidikan
Divisions: Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan > Bimbingan & Konseling
Depositing User: Mr Firman Al Mubaroq
Tanggal Deposit: 01 Aug 2015 05:57
Last Modified: 01 Aug 2015 05:57
URI: http://eprints.umk.ac.id/id/eprint/3411

Actions (login required)

View Item View Item