PENERAPAN TEKNIK KURSI KOSONG UNTUK MENINGKATKAN KETERBUKAAN SISWA TERHADAP ORANG TUA (Studi Kasus Pada Siswa Kelas X SMA 1 Mejobo Kudus Tahun Pelajaran 2013/2014)

Sulistyowati, Hesti (2015) PENERAPAN TEKNIK KURSI KOSONG UNTUK MENINGKATKAN KETERBUKAAN SISWA TERHADAP ORANG TUA (Studi Kasus Pada Siswa Kelas X SMA 1 Mejobo Kudus Tahun Pelajaran 2013/2014). Skripsi Sarjana thesis, Universitas Muria Kudus.

[img]
Tinjau ulang
PDF (Hal Depan ) - Accepted Version
Download (441kB) | Tinjau ulang
[img] PDF (Bab 1) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (247kB) | Request a copy
[img] PDF (Bab 2 ) - Accepted Version
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (355kB) | Request a copy
[img] PDF (Bab 3)
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (319kB) | Request a copy
[img] PDF (Bab 4)
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (310kB) | Request a copy
[img] PDF (Bab 5 )
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (267kB) | Request a copy
[img] PDF (Bab 6 )
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (105kB) | Request a copy
[img]
Tinjau ulang
PDF (Daftar Pustaka )
Download (103kB) | Tinjau ulang
[img] PDF (Lampiran )
Restricted to Hanya untuk pengguna terdaftar

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://eprints.umk.ac.id

Abstrak

Keterbukaan diri dapat dilakukan dengan cara mengungkapkan ide, gagasan dan pendapat terhadap informasi kepada orang lain. Dalam proses pembelajaran di sekolah kenyataannya masih banyak siswa yang kurang dalam membuka diri kepada orang tua terutama yang berkaitan dengan kegiatan belajar siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK bahwa kondisi siswa kelas X SMA 1 Mejobo Kudus Tahun Ajaran 2013/2014 diketahui bahwa siswa mengalami masalah berkaitan dengan ijin orang tua serta dukungan orang tua pada kegiatan non akademik maupun akademik di sekolah. Masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya keterbukaan siswa kepada orang tua. Upaya bantuan yang bisa dilakukan oleh konselor adalah layanan konseling individual. Alternatif teknik yang bisa digunakan adalah teknik kursi kosong. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan rendahnya keterbukaan siswa terhadap orang tua?. 2. Apakah penerapan teknik kursi kosong dapat meningkatkan keterbukaan siswa terhadap orang tua?. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab rendahnya keterbukaan siswa terhadap orang tua. 2. Untuk memperoleh peningkatan keterbukaan siswa terhadap orang tua melalui teknik kursi kosong. Ruang lingkup penelitian yang sesuai dengan judul penelitian adalah Penerapan Teknik Kursi Kosong untuk Meningkatkan Keterbukaan Siswa terhadap Orang Tua. Teknik kursi kosong adalah teknik permainan peran di mana semua perannya dimainkan oleh konseli sendiri dengan memerankan sebagai top dog dan under dog. Keterbukaaan diri merupakan kemampuan seseorang menyampaikan informasi kepada orang lain yang meliputi pikiran/pendapat, keinginan, perasaan maupun perhatian. Penerapan teknik kursi kosong diupayakan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan untuk bersikap terbuka kepada orang tua. Jenis penelitian adalah studi kasus. Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi, dan kunjungan rumah. Subjek penelitian adalah 3 (tiga) konseli, kelas X SMA 1 Mejobo Kudus Tahun Pelajaran 2013/2014 yang memiliki masalah kurang terbuka terhadap orang tua. Berdasarkan hasil penelitian bahwa yang menjadi faktor penyebab siswa kurang terbuka terhadap orang tua sebagai berikut: Konseli I (FO) kurang terbukanya FO dengan orang tua, karena: konseli merasa takut kepada orang tua untuk mengungkapkan keinginannya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, konseli jarang berkomunikasi dengan orang tua,kurang mampu berbagi dan cenderung menutup diri. Konseli II (MS) kurang terbukanya MS dengan orang tua, karena: konseli merasa takut kepada orang tua untuk mengungkapkan penolakan untuk pindah sekolah kepada ayahnya, konseli jarang berkomunikasi dengan orang tua, kurang mampu berbagi dan cenderung menutup diri. Konseli III (FM) kurang terbukanya FM dengan orang tua karena, konseli kurang memahami alasan orang tua memilihkan IPA, konseli sulit mengkomunikasikan dan mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh orang tua. Setelah dilaksanakan tiga kali konseling dengan teknik kursi kosong, terjadi perubahan perilaku ditunjukkan oleh konseli yang awalnya konseli kurang mampu berkomunikasi untuk terbuka dengan orang tua sekarang memiliki keberanian berkomunikasi yang baik untuk membuka diri dengan orang tua. Berdasarkan kesimpulan di atas peneliti memberikan saran untuk: 1. Kepala sekolah mengadakan pertemuan secara periodik dengan para guru, di antaranya dengan guru kelas, guru mata pelajaran, dan konselor untuk membahas permasalahan siswa. 2. Wali kelas memantau perkembangan siswa baik perkembangan akademik maupun perkembangan tingkah lakunya. 3. Konselor sekolah membantu siswa untuk mengatasi masalah yang dihadapi, khususnya membantu siswa untuk mampu membuka dirinya dengan orang tua maupun orang lain. 4. Orang tua memberikan perhatian yang positif kepada anak, sehingga anak selalu terpantau perkembangannya baik di rumah maupun di sekolah. 5. Peneliti selanjutnya digunakan sebagai bahan rujukan atau referensi untuk mengembangkan penerapan teknik kursi kosong untuk meningkatkan keterbukaan siswa terhadap orang tua.

Tipe dokumen: Skripsi (Skripsi Sarjana)
Additional Information: Drs,Susilo Rahardjo,M.Pd
Uncontrolled Keywords: Teknik Kursi Kosong, Keterbukaan Diri Siswa.
Subjects: Pendidikan > Teori dan praktek pendidikan
Divisions: Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan > Bimbingan & Konseling
Depositing User: pustakawan umk
Tanggal Deposit: 16 Feb 2015 07:18
Last Modified: 16 Feb 2015 07:18
URI: http://eprints.umk.ac.id/id/eprint/4011

Actions (login required)

View Item View Item